Ibnu Hadjar dan DI/TII di Kalimantan Selatan

Pemimpin Gerakan DI/TII Kalimantan Selatan

Gerakan DI/TII Kalimantan Selatan dipimpin oleh Ibnu Hadjar. Nama lain Ibnu Hadjar yaitu Angli atau Haderi bin Umar berasal dari desa Ambutun kecamatan Telaga Langsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.

Sebelum menjadi bagian DI/TII Ibnu Hadjar merupakan mantan Letnan Dua TNI di ALRI Divisi IV tahun 19 April 1920 – 22 Maret 1965. 

Latar Belakang Ibnu Hadjar Memimpin DI/TII di Kalimantan Selatan 

Tahun 1949 pemerintah melaksanakan program reorganisasi  divisi TNI dan ALRI IV. Dampak dari kebijakan ini menyebabkan anggota-anggota yang tidak memenuhi syarat diberhentikan dari TNI. Kebijakan reorganisasi divis TNI dan ALRI IV menimbulkan kekecewaan pasukan gerilyawan salah satunya Ibnu Hadjar. Ibnu Hadjar dianggap tidak memenuhi syarat karena buta huruf.

Pemberontakan DI/TII di Kalimantar Selatan dipimpin oleh Ibnu Hadjar
 
Ibnu Hajar kemudian membentuk gerakan yang diberi nama Kesatuan Rakyat Jang Tertindas (KRJT). Demi memperkuat kedudukan KRJT Ibnu Hajar meminta bantuan kepada Kahar Muzakar dan Kartosuwirjo. Kemudian Ibnu Hajar bergabung dengan Negara Islam Indonesia sekaligus diangkat menjadi Panglima TII di wilayah Kalimantan. 

Soekarno selaku kepala pemerintah RI berkunjung ke Banjarmasin setelah mengetahui keberadaan DI/TII di Kalimantan Selatan untk memberikan peringatan kepada Ibnu Hajar agar menghentikan pemberontakan secara damai. 

Peringatan pemerintah RI sempat diterima oleh Ibnu Hajar dengan menyerahkan diri kepada pemerintahn RI namun kemudian melarikan diri bersama pasukannya. Oktober 1950 Ibnu Hajar bersama pasukan TII mulai melakukan aksi pemberontakan. 

Maret 1950 Ibnu Hadjar meluapkan kekecewaannya dengan menyerang pos TNI bersama 60 anggotanya. Serangan tersebut mendapatkan simpati dari kalangan geriliyawan sehingga anggotanya bertambah menjadi 250 orang.

Ibnu Hadjar (Hitam) menghadapi persidangan
dan dijatuhi hukuman mati

Operasi Militer Penumpasan Pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan

Pemerintah menunjuk Hasan Basry untuk memimpin operasi penumpasan DI/TII di Kalimantan Selatan dianggap memiliki pengaruh yang kuat dikalangan pejuang geriliyawan yang dipimpin oleh Ibnu Hadjar. 

Hasan Basry dibantu oleh Firsmansjah dan Idham Chalid menyarankan agar  anggota DI/ TII Kalimantan Selatan menyerah dan dijamin diperlakukan dengan baik. Strategi ini berhasil, banyak anggota DI/ TII Kalimantan Selatan menyerah dan membuat Ibnu Hadjar semakin terpojok.

Tahun 1959 pemerintah melancarkan operasi Delima dilanjutkan dengan Operasi Seri Tiga di Tahun 1950. Ibnu Hadjar beserta pasukannya mampu bertahan karena ketersediaan logistik namun berhasil diatasi oleh pemerintah dengan melarang penduduk bertani didaerah kekuasaan Ibnu Hadjar.

Tahun 1963 perlawanan Ibnu Hadjar dan pasukan DI/TII Kalimantan Selatan berhasil setelah pertemuan Tengku Abdul Aziz Kepala Polisi Komisirat Kalimantan Selatan dengan Ibnu Hadjar untuk menyerah diiringi dengan janji-janji amnesti. Ibnu Hadjar ditangkap September 1963 diterbangkan ke Jakarta. 11 Maret 1965 Ibnu Hadjar dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Militer.